Friday, September 19, 2008

Should we legalise hunting of endangered species?

Andy Coghlan. New Scientist issue 2674. 18 September 2008.

TO MANY wildlife enthusiasts it will smack of heresy. A controversial plan put forward this week argues that to save species from extinction, the hunting of endangered animals for bushmeat should not be banned. Instead, the authors argue that the best way to reduce the slaughter is for hunting to be legalised and regulated, so that local communities rather than governments take charge of managing resources.

Around 1000 terrestrial species are hunted for food, according to the report from the Center for International Forestry Research (CIFOR), a non-profit research institution. In central Africa, 1 million tonnes of bushmeat are harvested each year, supplying 80 per cent of the protein and fat that people in the region consume. Yet the haul is seldom sustainable.

In Cameroon, for example, species including elephants, gorillas and other primates have become locally extinct in the past 50 years. In the Tangkoko Duasudara nature reserve in ... The complete article is 925 words long.

Friday, January 27, 2006

Kekayaan Hayati Sulawesi

J.S. Tasirin

Walaupun Sulawesi tidak seluas Sumatera, Kalimantan dan Irian, pulau ini adalah pulau yang sangat berharga bagi konservasi biologi karena memiliki tingkat ke-endemik-an satwa yang tinggi. Dari 165 jenis mamalia endemik Indonesia, hampir setengahnya (46%) ada di Sulawesi. Sebenarnya ada 127 jenis mamalia yang bisa ditemukan di Sulawesi, 79 jenis (62%) diantaranya endemik Sulawesi. Di daratan Sulawesi tercatat ada 233 jenis burung, 84 diantaranya endemik Sulawesi. Jumlah ini mencakup lebih dari sepertiga dari 256 jenis burung endemik Indonesia. Sulawesi didiami oleh sebanyak 104 jenis reptilia, hampir sepertiganya (29 jenis) endemik di pulau ini. Itu berarti, dari 150 reptilia yang tercatat endemik di Indonesia, seperlimanya ada di Pulau Sulawesi.

Satwa endemik adalah satwa yang secara alami tidak ditemukan di daerah lain di manapun juga di muka bumi ini.

Semenanjung utara Sulawesi (tanah Minahasa, Totabuan dan Gorontalo) merupakan kawasan terpenting di Sulawesi. Kawasan ini didiami oleh 89 atau sekitar 86% dari 103 jenis burung endemik di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya. Pernahkah anda membayangkan bahwa ada sebanyak 38 jenis tikus endemik Sulawesi? Hampir setengahnya (45%, 17 jenis) ada di semenanjung utara Pulau Sulawesi. Semenanjung ini juga menjadi rumah dari 20 jenis kelelawar buah endemik Sulawesi. Itu berarti, sebagian besar (atau lebih dari 83% dari 24 jenis) kelelawar endemik Sulawesi terdapat di kawasan ini.

Sulawesi memiliki sejumlah satwa endemik yang menakjubkan. Beberapa diantaranya akan disajikan disini.


MaleoMaleo (Macrocephalon maleo) berpasangan sehidup-semati, menimbun telurnya di dalam tanah dan dierami oleh panas bumi atau matahari, tidak pernah merawat anaknya.

BabirusaBabirusa (Babyrousa babyrussa) memiliki dua pasang cula yang sebenarnya adalah taring, bagian dari geligi atas. Pada masa muda gigi-gigi taring atas ini berada normal didalam mulut. Menjelang dewasa, taring ini bertumbuh membelok dan menembus moncong atas lalu melengkung ke arah mata.

Yaki utara, the crested black macaque, (Macaca nigra) adalah primata terbesar di Sulawesi. Yaki betina yang lagi birahi tidak dapat menyembunyikan hasrat seksualnya karena bagian “pongo-pongo” pantatnya bengkak memerah.

Source: Wildlife Conservation Society, Indonesia Program Sulawesi <sulawesi@wcsip.org>